Bagi pekerja dengan gaji bulanan, umroh terasa seperti tujuan yang jauh. Ada cicilan rumah, biaya sekolah, dan kebutuhan sehari-hari yang lebih dulu menagih. Namun perjalanan ini tidak harus menunggu pensiun. Yang dibutuhkan adalah target yang jelas dan pemisahan uang yang rapi.
Berikut cara menyusun rencana dari gaji bulanan tanpa mengorbankan kebutuhan dasar.
1. Tentukan angka target, bukan tanggal yang kabur
“Kapan-kapan mau umroh” sulit dihitung. Sebaliknya, “lima tahun lagi” bisa diterjemahkan menjadi angka. Untuk perjalanan sekitar sembilan hari dengan hotel kelas menengah, biaya umroh mandiri sering berada di kisaran Rp20 sampai 30 juta per orang. Angka itu bergantung pada musim, kota keberangkatan, dan kelas hotel.
Tambahkan biaya yang sering luput: perlengkapan, vaksin, transportasi domestik, oleh-oleh, dan dana darurat. Anggaran yang hanya menghitung tiket dan hotel akan terasa kurang di tengah perjalanan.
2. Bagi target dengan jumlah bulan
Bila target Rp30 juta dan waktu yang tersedia lima tahun, sisihan per bulan sekitar Rp500 ribu. Angka ini terasa lebih masuk akal daripada menabung sekaligus. Bila waktu hanya dua tahun, sisihan naik menjadi sekitar Rp1,25 juta per bulan. Menghitungnya lebih awal membuat Anda bisa memilih: memperpanjang waktu atau menyesuaikan standar perjalanan.
Jangan memasukkan bonus tahunan sebagai satu-satunya sumber dana. Bonus bisa datang, bisa juga tidak. Gunakan sebagai percepatan, bukan fondasi.
3. Pisahkan rekening
Rekening khusus terasa sepele, tetapi membantu. Uang umroh yang bercampur dengan uang belanja mudah dipakai untuk keperluan lain. Buat rekening terpisah, lalu atur transfer otomatis sehari setelah gaji masuk. Perlakukan angsuran ini seperti tagihan, bukan seperti sisa uang.
Kalau bank menawarkan tabungan berjangka atau deposito, pertimbangkan sesuai kebutuhan likuiditas. Dana yang sudah disisihkan sebaiknya tidak dipakai untuk investasi berisiko tinggi hanya demi imbal hasil tambahan.
4. Kurangi biaya yang tidak terasa
Langganan yang jarang dipakai, makan di luar setiap hari, dan pembelian impulsif adalah tiga pos yang paling sering menggerus anggaran. Tidak perlu menghapus semuanya. Cukup hitung berapa yang bisa dialihkan setiap bulan, lalu masukkan ke rekening umroh.
Hindari juga berutang untuk berangkat. Umroh tidak mensyaratkan Anda memaksakan kemampuan di luar batas. Bila biaya perjalanan membuat kebutuhan keluarga terabaikan, menunda keberangkatan adalah keputusan yang lebih bijak.
5. Siapkan dokumen dan izin kerja
Paspor harus berlaku cukup lama sebelum visa diajukan. Cek sekarang, jangan menunggu tanggal keberangkatan. Bagi pekerja, ajukan cuti lebih awal dan pastikan tidak bertabrakan dengan periode sibuk kantor. Bila Anda bekerja di luar negeri, izin majikan dan status visa menjadi bagian yang tidak bisa dilewati.
Untuk pekerja migran, miqat ditentukan oleh kota tempat tinggal, bukan kota asal di Indonesia. Pekerja di Jeddah berihram dari Jeddah, pekerja di Madinah dari Dzul Hulaifah, dan pekerja yang tinggal di Makkah harus keluar ke Tan’im untuk umroh baru. Kontrak kerja juga wajib dipenuhi, sehingga umroh tidak boleh dijadikan alasan meninggalkan pekerjaan tanpa izin.
Pembahasan lengkap tentang hukum, miqat, dan status visa bagi pekerja migran bisa dibaca di Wiki Umroh. Situs ini menyusun penjelasan dari dalil dan kitab fiqih, dengan catatan bahwa keputusan untuk kasus pribadi tetap perlu dikonsultasikan kepada ahli.
6. Mulai dari angka kecil bulan ini
Rencana yang paling sering gagal adalah rencana yang menunggu gaji naik. Tentukan target, buka rekening, dan sisihkan jumlah yang mampu bulan ini, sekecil apa pun. Setelah tiga bulan berjalan, evaluasi: apakah angkanya realistis, apakah ada pos pengeluaran yang bisa dipangkas, dan apakah target waktu perlu disesuaikan.
Umroh bukan perlombaan. Yang penting bukan seberapa cepat berangkat, tetapi apakah perjalanan itu disiapkan dengan uang yang jelas, izin yang sah, dan niat yang lurus.